Sabtu, 01 September 2012

Tak Sepantanya

Seorang suami merupakan pemimpin dalam sebuah keluarga. Dia akan diminta pertanggung jawaban di hadapan Allah terhadap apa yang telah dipimpinnya. Pembahasan kali ini akan difokuskan pada seputar kesalahan-kesalahan yang dilakukan sebagian suami terhadap istrinya. Beberapa kesalahan tersebut adalah sebagai berikut:
1. Tidak mengajari istri tentang Islam dan hukum-hukum syariatnya.
Banyak para istri yang dijumpai tidak mengetahui bagaimana shalat dengan benar, apa hukum-hukum yang berkaitan dengan haid dan nifas, dan bagaimana menjadi seorang ibu dalam mendidik anak-anaknya secara islami. Sebaliknya justru banyak dijumpai para istri yang disibukkan dengan belajar membuat resep suatu masakan, dan bagaimana cara menghidangkan makanan karena memang suaminya menanyakan tentang hal itu kepadanya.
Akan tetapi bagaimana cara berwudhu yang benar, bagaimana cara sholat yang benar, tidak ditanyakan para suami kepada istrinya. Kepada para suami, sungguh di sana terdapat banyak cara dalam mengajari istri perkara-perkara agama. Diantaranya adalah memberi hadiah buku tentang Islam dan hukum hukumnya kemudian mengajaknya berdiskusi, memberi hadiah kaset ceramah kemudian mintalah agar meringkas apa yang disampaikan oleh penceramah, mengajak istri menghadiri kajian yang disampaikan seorang ustadz di masjid, menceritakan kepada istri isi khutbah jum'at kemudian mendiskusikannya, dan bisa juga menganjurkan istri untuk mendengarkan bacaan Al Quran dan mendalami maknanya.
2. Mencari-cari kesalahan dan kekurangan istri
Rasulullah shallallahu ‘alihi wasallam telah melarang hal tersebut sebagaimana telah diriwayatkan oleh Jabir radhiallahu 'anhu dia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melarang suami yang pulang dari bepergian mengetuk pintu keluarganya pada malam hari. Larangan tersebut karena dikhawatirkan ia akan mendapati istrinya dalam keadaan yang kurang menyenangkan. Demikian juga, hendaknya seorang suami bersabar dan memahami akan kekurangan yang ada pada istri seperti pada saat istri lambat dalam merespon perintah suami. Hendaknya juga jangan terlalu sering mengevaluasi istri, hal ini sebagaimana sabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam, "Berwasiatlah kalian kepada para wanita (istri) dengan kebaikan, karena mereka itu diciptakan dari tulang rusuk. Dan bagian yang paling bengkok dari tulang rusuk adalah bagian yang paling atas. Bila engkau paksakan untuk meluruskannya, maka engkau akan mematahkannya. Namun bila engkau biarkan begitu saja (tidak engkau luruskan) maka dia akan terus menerus bengkok. Karena itu berwasiatlah kalian kepada para wanita (istri) dengan kebaikan."
Dari hadits di atas ada beberapa pelajaran, yang di antaranya adalah:
a. Dianjurkan bersikap baik dan lemah lembut terhadap istri untuk menyenangkan hatinya
b. Mendidik wanita dengan sabar dan penuh rasa maaf atas ‘kebengkokan’ mereka. Siapa yang berupaya meluruskan mereka dengan cara yang kasar, tidak akan dapat mengambil manfaat apapun darinya. Padahal, setiap suami membutuhkan posisi seorang istri agar mendapatkan ketenangan hidup bersamanya dan membantu dalam kehidupannya.
c. Seakan-akan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengatakan, "Rasa nikmat hidup dengan istri tidak akan sempurna kecuali dengan bersabar terhadapnya." Dan satu manfaat lagi yang tidak boleh diabaikan adalah tidak pantas seorang suami menceraikan istrinya tanpa alasan yang jelas.
3. Berbuat dhalim dengan menjatuhkan hukuman yang tidak sesuai dengan kesalahan.
Sebagian suami melakukan perbuatan dholim kepada istri dengan memberikan hukuman kepada istri lebih berat dari kadar kesalahan yang dilakukannya. Di antara bentuk kedholiman itu adalah dengan menggunakan pukulan sebagai langkah pertama menasihati istri, padahal Allah telah berfirman, “Dan wanita-wanita yang kamu khawatirkan berbuat nusyuz, maka nasehatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka menaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya.” (QS. An-Nisa': 34).
Oleh karena itu selayaknya menghukum istri terlebih dahulu adalah dengan nasihat, kemudian boikot, kemudian pukulan yang tidak keras. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Ketahuilah, berwasiatlah kalian dengan kebaikan kepada para wanita (para istri) karena mereka hanyalah tawanan di sisi (di tangan) kalian. Kalian tidak menguasai mereka sedikitpun kecuali hanya itu, terkecuali bila mereka melakukan perbuatan keji yang nyata. Maka bila mereka melakukan hal itu, boikotlah mereka di tempat tidurnya dan pukullah mereka dengan pukulan yang tidak keras.”
Kemudian di antara bentuk kedholiman seorang suami kepada istri adalah, mengusir istri dari rumah tanpa alasan yang dibenarkan dalam islam, memukul wajah, menghina dan mencaci maki istri. Ada seorang laki laki datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan bertanya, “Apa hak seorang istri atas suaminya?” Rasul menjawab, “Hendaklah engkau memberinya makan apabila engkau makan, memberi pakaian apabila engkau berpakaian, janganlah memukul wajah dan janganlah engkau hina, dan jangan engkau boikot kecuali di dalam rumah.”
4. Pelit dalam memberi nafkah
Sesungguhnya pemberian nafkah seorang suami kepada istri adalah kewajiban yang telah ditetapkan di dalam Al Quran, as Sunnah dan Ijma'. Allah subhanahu wata’ala berfirman, “…dan kewajiban bagi seorang ayah untuk memberikan nafkah dan pakaian kepada para ibu dengan cara yang baik.” (QS. Al-Baqarah: 233)
Apabila seorang istri diuji dengan suami yang pelit dan tidak mau memberikan nafkah yang menjadi haknya, dia dibolehkan untuk mengambil sebagian harta milik suami secukupnya walau tanpa sepengetahuan suami. Hindun binti 'Utbah berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya Abu Sufyan adalah suami yang pelit, ia tidak memberiku nafkah yang dapat mencukupiku dan anakku terkecuali bila aku mengambil dari hartanya tanpa sepengetahuannya.” Bersabdalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Ambillah dari harta suamimu sekadar yang dapat mencukupimu dan mencukupi anakmu dengan cara yang ma’ruf.” (HR. Al-Bukhari no. 5364 dan Muslim no. 4452)
5. Terburu buru dan gampang mengucapkan kata cerai
Wahai para suami, sesungguhnya ikatan antara engkau dan istrimu adalah merupakan ikatan yang paling suci dan kuat, sebagaimana Allah swt telah berfirman;
"… Dan mereka (istri-istri kalian) telah mengambil dari kalian perjanjian yang kuat " (An Nisa; 21)
6. Kurangnya rasa cemburu
Di antara bentuk kurangnya rasa cemburu adalah seorang suami membiarkan istrinya bercampur baur dengan saudara iparnya atau saudara sepupu suami. Padahal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda; “Hati-hati kalian dari masuk ke tempat para wanita.” Para sahabat bertanya: “Wahai Rasulullah, bagaimana pendapatmu dengan ipar?” Beliau menjawab, “Ipar itu (ibarat) maut.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim). Di antara bentuk kurangnya rasa cemburu adalah membiarkan istrinya pergi berduaan dengan sopir pribadi untuk berbelanja atau jalan-jalan, padahal berapa banyak bangunan rumah tangga yang runtuh sebagai hasil dari perbuatan maksiat seperti ini. Wallahu a’lam.

Sahabat Membunuh Ayahnya

Peperangan yang tidak seimbang, kaum muslimin berjumlah 314 sementara kuffar quraisy 950 pasukan. Dalam perang Badar, tersebutlah seorang sahabat bernama Abu Ubaidah yang berperang penuh keberanian, beliau menerjang musuh, orang-orang kufar Quraisy segan berhadapan bahkan mereka takut menghadapi pejuang ini, karena Abu Ubaidah berperang tidak ada rasa takut untuk mati. Tatkala perang berkecamuk, tiba-tiba ada diantara tentara Quraisy yang berusaha menghadang Abu Ubaidah, beliaupun menghindar dari hadangan tentara tersebut dan berusaha menjauh, tetapi upaya tersebut tidak mendapatkan hasil, tentara Quraisy tersebut senantiasa mengikuti kemana Abu Ubaidah pergi bahkan menghadangnya penuh dengan berani. Diwaktu dimana Abu Ubaidah dalam keadaan sempit dan susah untuk menghindar maka Abu Ubaidah mengayunkan pedangnya dan menebas orang tersebut, tersungkurlah tentara Quraisy itu. Ternyata tentara itu adalah Abdullah bin Jarroh, ayah Abu Ubaidah.
Beliau tidak membunuh ayahnya, yang beliau bunuh adalah kesyirikan yang ada pada pribadi ayahnya, yang dengannya Alloh menurunkan wahyuNya,
لا تَجِدُ قَوْمًا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ يُوَادُّونَ مَنْ حَادَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلَوْ كَانُوا آبَاءَهُمْ أَوْ أَبْنَاءَهُمْ أَوْ إِخْوَانَهُمْ أَوْ عَشِيرَتَهُمْ أُولَئِكَ كَتَبَ فِي قُلُوبِهِمُ الإيمَانَ وَأَيَّدَهُمْ بِرُوحٍ مِنْهُ وَيُدْخِلُهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الأنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ أُولَئِكَ حِزْبُ اللَّهِ أَلا إِنَّ حِزْبَ اللَّهِ هُمُ الْمُفْلِحُونَ
Kamu tidak akan mendapati sesuatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara atau pun keluarga mereka. Mereka itulah orang-orang yang Allah telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dan menguatkan mereka dengan pertolongan yang datang daripada-Nya. Dan dimasukkan-Nya mereka ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Allah rida terhadap mereka dan mereka pun merasa puas terhadap (limpahan rahmat) Nya. Mereka itulah golongan Allah. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya golongan Allah itulah golongan yang beruntung. (al Mujadilah: 22)
Abu Ubaidah adalah seorang sahabat yang berperawakan tinggi, kurus, bermuka tampan. Orang yang melihatnya akan merasa senang dan membuat jiwa tenang dan ingin selalu berjumpa dengannya. Beliau sangat tawadlu, pemalu, tetapi jika keadaan harus memaksa beliau untuk bertindak dan berbuat, maka ia bergegas melakukan bagaikan singa yang hendak menerkam mangsanya.
Abu Ubaidah bernama Amir bin Abdillah bin Jarroh al-Qurasy dan memiliki kunyah Abu Ubaidah.
Abdullah bin Umar bin Khaththab berkata, “Tiga orang yang merupakan pemuka orang Quraisy dan sangat dihormati akhlaq mereka, mulia, pemalu, jika mereka berbicara kepada kalian tidak akan berdusta,jika kalian berbicara dengan mereka, merekapun tidak mendustakan kalian. Mereka adalah Abu Bakar as Siddiq, Utsman bin Affan dan Abu Ubaidah bin Jarroh.”
Menurut tarikh, Abu Ubaidah termasuk orang yang pertama masuk dalam agama islam. Beliau masuk Islam setelah mendapat ajakan Abu Bakar as Siddiq,sehari setelah Abu Bakar menyatakan keislamannya. Setelah itu berturut-turut diikuti Abdurrahman bin Auf, Utsman bin mad’uun dan Al Arqom bin Abi al Arqom. Mereka semua masuk Islam di hadapan Rasulullah dan mengumumkan keislaman mereka dan merekalah tonggak dan pilar umat ini.
Suatu ketika datanglah utusan dari orang-orang Nasrani kepada Rasulullah. Merekapun berkata, “Wahai abul Qosim(panggilan untuk Rasulullah), utuslah kepada kami seorang laki-laki dari sahabatmu, yang engkau ridhoi untuk menjadi hakim dan penengah diantara kami dalam suatu urusan yang kami miliki dari harta kami yang kita berselisih didalamnya, karena kaum muslimin dihadapan kami sangat terhormat dan kami ridho dengan kalian.” Maka Rasulullah bersabda, “Datanglah nanti sore, niscaya aku akan kirim orang yang kuat dan terpercaya.” Umar berkata, “Maka aku datang untuk sholat dhuhur di awal waktu dan aku tidak berharap untuk memperoleh jabatan sebagai pemimpin kecuali waktu itu, dan harapanku adalah orang yang di pilih Rasul adalah aku, sesudah sholat dhuhur, maka baginda Nabi menoleh ke kanan dan ke kiri, maka akupun berusaha menampakkan diriku sehingga baginda Nabi melihatku. Nabi kembali menengok ke kanan dan ke kiri, kemudian beliau melihat Abu Ubaidah dan memanggilnya dan berkata,’Pergilah bersama mereka(orang-orang Nasrani) dan jadilah penengah diantara mereka, hakimilah apa yang mereka perselisihkan dengan adil’, maka aku(Umar) berkata,’'Abu Ubaidahlah yang telah meraihnya.”
Sesudah Rasulullah wafat, maka Umar berkata kepada Abu baidah,”Bentangkanlah tanganmu wahai Abu Ubaidah karena aku mendengar Nabi bersabda,’ Tiap umat memiliki orang yang dipercaya dan sesungguhnya orang yang terpercaya untuk umat ini adalah Abu Ubaidah.’.” Maka beliau menjawab,”Aku tidak akan maju dan didepanku ada orang yang diperintah Rasulullah untuk menjadi imam sholat dan kami akan mempercayakannya sampai wafat.” Kemudian Abu Bakar dibaiat dan kaum muslimin pun sepakat untuk membaiatnya.
Menjelang wafat, Abu Ubaidah berwasiat kepada tentaranya dan waktu itu beliau berada di negeri Syam. “Sesungguhnya aku berwasiat kepada kalian, dan kalian akan semakin baik selama kalian memeganginya yaitu dirikanlah sholat, berpuasalah Romadhon, bersedekahlah, berhajilah dan berumrohlah, dan lakukanlah saling memberi nasehat, nasehatilah pemimpin kalian dan janganlah kalian curangi mereka dan janganlah kalian mencampakkan dalam kebinasaan karena dunia…” Tidak lama sesudah beliau memberi nasehat, ajalpun menyongsongnya, semoga Allah meridhoinya dan meridhoi kita semua. Amiin, ya Robbal alamin..

Minggu, 20 Mei 2012

Jika Darah haid terputus-putus

Definisi Haid.
Arti lughowi                : Mengalir.
Arti syar’I                     : Darah alami yang keluar dari ujung rahim pada saat sehat.
Keterangan                  : Darah yang keluar tidak secara alami bukan darah haid seperti darah yang keluar sebelum dan ketika melahirkan.

Usia minimal.
Usia wanita haid         : Dimulai dari umur 9 tahun qamariyah taqribiyah.
Keterangan                  : Tahun qamariyah adalah tahun Hijriyah, sedangkan taqribiyah artinya untuk dapat mengalami haid tidak harus berumur 9 tahun persis, jadi jika darah keluar pada umur 9 tahun kurang 15 hari misalnya (masa yang tidak cukup untuk haid dan suci), maka darah tersebut sudah dihukumi haid.

Masa haid.
Minimal                      : Sehari semalam atau 24 jam.
Kebanyakan                : 7 – 6 hari.
Maksimal                    : 15 hari.
Keterangan                  :• Darah yang keluar kurang dari 24 jam adalah darah  istihadloh.

• Darah yang keluar lebih dari 15 hari adalah darah haid yang bercampur dengan darah istihadloh, maka harus diteliti lagi dengan mempelajari tujuh gambaran perempuan mustahadloh yang akan dijelaskan.

Masa suci antara dua haid.
Minimal                      : 15 hari.
Kebanyakan                : Sisa hari-hari haid dalam sebulan.
Maksimal                    : Tidak terbatas.
Keterangan                  : Jika haid kedua datang sebelum masa suci sempurna 15 hari, maka darah itu bukanlah darah haid, wanita tersebut tetap dihukumi suci sampai sempurnanya masa suci 15 hari. Jika setelah masa suci sempurna darah tetap keluar, maka darah yang terakhir ini adalah haid.

Tanda berhentinya haid
: Suci dapat diketahui dengan memasukkan kapas ke Mrs.V.  Jika tidak nampak bercak pada kapas berupa darah maupun warna kuning atau keruh maka haid telah usai.

Warna darah haid.

Warna haid                 : Hitam, merah, merah kekuning-kuningan, kuning dan keruh.
Keterangan                  : Ulama’ berbeda pendapat pada warna kuning dan keruh. Pendapat yang mu’tamad menyatakan haid.
Imam Al-Juwaini menjelaskan, “Kedua warna itu bukanlah darah melainkan cairan seperti nanah yang diatasnya ada warna kuning atau keruh”.

Penting : Penentuan masa haid, masa suci dan semua hukum-hukum yang berhubungan dengan haid adalah hasil penelitian Imam Syafi’i terhadap para wanita di zamannya, kemudian beliau rumuskan riset tersebut dengan dalil-dalil Alqur’an dan hadits sehingga timbullah ide-ide mengenai hukum-hukum haid.

Oleh karena itu, jika terjadi kebiasaan darah yang berbeda dengan ketentuan di atas pada seorang wanita atau para wanita di suatu daerah, maka kebiasaan tersebut tidak bisa mempengaruhi hukum haid yang telah ditentukan. Lebih baik menghukumi darah mereka sebagai darah fasad (penyakit), daripada harus merusak kaedah yang telah baku, karena penelitian ulama’ terdahulu tentu lebih sempurna.

YANG HARUS DILAKUKAN KETIKA MELIHAT DARAH

Setiap melihat darah seorang wanita harus langsung meninggalkan larangan-larangan haid tanpa menunggu 24 jam. Selanjutnya,  jika darah tersebut berhenti sebelum mencapai 24 jam maka dia harus menqodlo’ sholat yang dia tinggalkan karena terbukti ini bukan haid.

Kemudian jika darah tersebut keluar lagi sebelum 15 hari maka dia harus meninggalkan lagi larangan-larangan haid. Begitu seterusnya.

Adapun jika darah tersebut berhenti setelah mencapai 24 jam maka jelaslah bahwa ini haid. Dan saat ini dia wajib mandi, sholat, puasa (di bulan Ramadhan) dan boleh baginya bersetubuh dengan suaminya karena darah sudah berhenti.

Jika kemudian darah tersebut keluar lagi sebelum lewat 15 hari jelaslah sudah bahwa ibadah yang dia lakukan tadi tidak sah karena ternyata dia masih haid.

Namun dia tidak berdosa dengan persetubuhan yang telah dia lakukan, karena saat melakukannya secara dhohir dia telah suci

Demikianlah yang harus dilakukan wanita haid jika darahnya datang terputus-putus selama tidak melebihi 15 hari.

Setelah membaca keterangan di atas, maka dapat disimpulkan waktu haid maksimal adalah 15 hari 15 malam (360 jam). Oleh karena itu, jika darah keluar tidak lebih dari 15 hari maka waktu mulai keluar darah sampai 15 hari dihukumi haid. Namun jika masih keluar setelah 15 hari 15 malam, maka dinyatakan darah istihadhoh.

Apabila darah terputus-putus, maka setiap melihat darah berhenti diperinci sebagai berikut :

    jika darah yang keluar telah mencapai paling sedikitnya haid yaitu sehari semalam (24 jam), maka wajib baginya untuk mandi, shalat dan puasa (di bulan Ramadhan), baik di bulan sebelumnya sudah pernah terjadi putusnya darah lalu keluar lagi ataukah belum pernah terjadi. Ini menurut pendapat Imam Ibn Hajar. Adapun menurut Imam Rofi’i jika di bulan sebelumnya pernah terjadi, maka tidak wajib mandi, shalat dan puasa.
    jika darah yang keluar kurang dari 24 jam, maka darah tersebut adalah darah istihadhoh, sehingga tidak wajib mandi.

Apabila darah keluar lagi sebelum 15 hari (dari keluar darah pertama), maka menjadi jelas bahwa dia masih dalam keadaan haid, sehingga wajib mengqodho’ puasa yang telah dia kerjakan di waktu putusnya darah dan tidak wajib qodho’ shalat.

contoh suami yang Saleh dalam Keluarga

1. Suami pandai menumbuhkan suasana yang damai,vtenteram serta penuh kasih sayang kepada keluarga.

2. Suami mempunyai sifat ramah dan penuh pengertian dalam keluarga.

3. Suami selalu membimbing isterinya agar selalu taat kepada Allah Azza Wa Jalla dan Rasul-Nya.

4. Suami bertanggung jawab dalam segala urusan rumah tangga.

5. Suami menafkahi isteri dengan cukup, baik nafkah lahir maupun nafkah batin.

6. Suami menyempatkan diri dan tidak segan-segan mengajari ilmu agama kepada isterinya dan anak-anaknya

7. Ia menerima apa adanya keadaan isteri dengan segala kekurangan dan keterbatasannya. Baik itu keadaan fisik maupun sifat-sifat yang ada pada isterinya.

8. Suami tidak mudah marah ketika ada perselisihan dalam rumah tangga.

9. Suami selalu mencari solusi dan jalan keluar yang baik untuk menyelesaikan setiap permasalahan yang terjadi dalam keluarganya.

10. Suami Ketika hendak bepergian ia selalu pamit serta memberitahukan tujuan kepada isterinya.

11. Suami tak lelah untuk menasehati dengan sebaik-baiknya jika isterinya berbuat kesalahan.Serta membimbingnya ke jalan yang benar.

12. Suami tidak membebani isterinya dengan persoalan yang masih bisa diselesaikannya sendiri.

13. Suami selalu meluangkan waktu untuk bersantai dan bercengkrama bersama isteri dan anak-anaknya.

Seorang suami yang sholeh adalah suami yang mampu membuat istrinya dan anak-anaknya tumbuh dan berkembang menjadi pribadi yang luar biasa serta menapaki tangga-tangga sukses di dunia dan di akhirat kelak.

Seorang suami yang shaleh adalah suami yang mampu membimbing istri dan anak-anaknya di dalam sebuah akidah Syariat Islam menuju NUUR JANNAH (CAHAYA SYURGA), seorang suami yang sholeh adalah suami yang akan selalu menjaga istri dan anak-anaknya dari api neraka.

Pada umumnya kehidupan rumah tangga tidak lepas dari konflik seperti terjadinya kemarahan di antara suami istri, apakah rumah tangga orang-orang shalih ataupun orang-orang ahli maksiat. Namun terdapat perbedaan yang jelas pada rumah tangga orang-orang shalih di satu sisi. Yaitu mereka tidak membiarkan permasalahan yang ada berjalan di atas kemauan syaithan. Bahkan mereka bila marah berlindung kepada Allah dari syaithan, memperbaiki kesalahan-kesalahan mereka,   menyatukan pendapat, meluruskan permasalahan mereka dan menyingkirkan makar syaithan.

Apabila timbul permasalahan di antara suami istri, maka mereka harus segera menyelesaikannya dan berlindung kepada Allah Azza Wa Jalla dari syaithan yang terkutuk, melakukan upaya perdamaian,  menutup pintu-pintu dan menjulurkan hijab (tidak membiarkan terlibatnya pihak ketiga). Misalnya apabila sang suami marah atau sang istri sedang emosi maka hendaknya berlindung dari syaithan, mengambil air wudhu`dan shalat dua raka’at. Jika salah seorang di antara suami-istri sedang berdiri, maka hendaklah dia duduk agar hilang marahnya. Bila sedang duduk, berbaringlah atau saling berpelukan dan merangkul serta saling mema'afkan dengan Ikhlas.

Semoga Allah Azza Wa Jalla memperbaiki keadaan kita dan keluarga kita semua sehingga tetap Istiqomah di atas Syari’at-Nya dalam Keluarga Sakinah Mawaddah Warahmah.,,, Aamiin Ya Rabbal’alamiin.

Doa-doa Rasulah SAW sebelum Salam Sholat

Apakah doa yang anda baca sebelum memberi salam dalam solat? Atau anda tidak pernah berdoa ketika itu?

Sekiranya anda tidak pernah mengamalkannya maka anda tersangat rugi kerana waktu itu merupakan waktu doa yang mustajab dan merupakan amalan Rasulullah S.A.W. sepanjang hidupnya.

Sangat banyak doa-doa yang dibaca oleh baginda selepas tasyahhud dan sebelum salam. Berikut adalah doa-doa tersebut :

1. Ya Allah! Aku berlindung denganMu daripada azab neraka jahanam, daripada azab kubur, daripada fitnah kehidupan dan kematian, dan daripada kejahatan fitnah dajjal. - [Imam Muslim]

2. Ya Allah! Aku berlindung denganMu daripada azab kubur, aku berlindung denganMu daripada fitnah Dajjal, aku berlindung denganMu daripada fitnah kehidupan dan kematian. Ya Allah! Aku berlindung denganMu daripada dosa dan hutang. - [Imam al-Bukhari]

3. “Ya Allah! Sesungguhnya aku berlindung kepadaMu dari bakhil, aku berlindung kepadaMu dari penakut, aku berlindung kepadaMu dari dikembalikan ke usia yang terhina, dan aku berlin-dung kepadaMu dari fitnah dunia dan siksa kubur. - [Imam al-Bukhari]

4. “Ya Allah! Berilah pertolongan kepadaku untuk mengingatiMu, bersyukur kepadaMu dan ibadah yang baik untukMu. - [ Abu Dawud dan al-Nasa’ie]

5. Ya Allah! Aku berlindung daripada kejahatan yang telah aku lakukan, dan daripada kejahatan lakukan. - [al-Nasa’i]

6. Ya Allah! Hitunglah aku dengan perhitungan yang mudah.

7. Ya Allah! Sesungguhnya aku telah banyak menzalimi diriku sendiri. Tiada yang dapat mengampunkan dosa-dosa kecuali Engkau, maka ampunilah diriku dengan keampunan yang Engkau miliki. Rahmatilah aku. Sesungguhnya Maha Pengampun dan Penyayang. - [Imam al-Bukhari]

8. Ya Allah! Aku memohon kepada Mu. Ya Allah Yang Maha Esa. Yang Tidak Melahirkan dan Tidak Dilahirkan, dan tidak ada yang setara dengannya, Engkau ampunilah dosa-dosaku. Sesungguhnya Engkau Maha Pengampun dan Penyayang. - [Imam Abu Dawud]

9. Ya Allah! Ampunilah aku untuk apa yang telah aku (lakukan) di masa lalu dan apa yang akan aku (lakukan) di masa hadapan, apa yang aku (lakukan) secara tersembunyi dan apa yang aku (lakukan) terang-terangan, apa yang telah aku berlebih-lebihan, dan apa-apa yang lebih Engkau ketahui berbanding diriku sendiri. Engkaulah Yang Mendahului dan Engkaulah Yang Mengakhiri. Tiada yang berhak disembah melainkan Engkau. - [Imam Abu Dawud]

10. “Ya Allah! Sesungguhnya aku mo-hon kepadaMu, agar dimasukkan ke Surga dan aku berlindung kepadaMu dari Neraka. - [ Abu Dawud]

Semoga kita dapat mengamalkan doa-doa Rasulullah S.A.W. ini dalam setiap kali solat. InsyaAllah..

Rabu, 16 Mei 2012

Dianjurkan memperbanyak sholawat pada hari jumat

Assalamua’laikum wr.wb.
Pada hari Jumat disunahkan untuk memperbanyakkan shalawat kepada Nabi. Berapakah jumlah shalawat yang perlu dibaca pada hari Jumat?
Jawaban:
Anjuran Memperbanyak Shalawat di Hari Jumat Benar, Dalil tentang hal ini adalah hadist dari sahabat Aus bin Aus radhiallallahu ‘anhu bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:“Sesungguhnya hari yang paling utama adalah hari Jumat, karena itu perbanyaklah membaca shalawat untukku. Sesuhngguhnya shalawat kalian ditampakkan kepadaku.”

Sahabat bertanya, Bagaimana shalawat kami bisa ditampakkan kepada Anda, sementara Anda sudah menjadi tanah (di kubur)?
Beliau menjawab,“Sesungguhnya Allah Ta’ala mengharamkan bumi untuk memakan jasad para nabi shallallahu ‘alaihim wa sallam.”(HR. Abu Daud, Nasa’i, Ibn Majah, dan dinyatakan shahih Syaikh Al-Albani)

Jika kita amati, hadist di atas hanya menunjukkan anjuran memperbanyak shalawat di hari Jumat. Mengenai bilangannya, bacaannya, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak menyebutkan dalam hadis tersbut. Dengan demikian, kita amalkan sebagaimana teksnya:

a. Perbanyak shalawat di hari Jumat tanpa bilangan maksimal, semakin banyak semakin besar pahalanya
b. Bacaan shalawat sebagaimana shalawat pada umumnya, seperti lafadz: "Allohumma sholli a'la syayyidina Muhammad wa 'ala ali syayidina Muhammad".
c. Tidak perlu ada acara khusus untuk memperbanyak shalawat di hari Jumat.
Allahu a’lam

10 Sikap Buruk Manusia yang Dicela ALLH

SYEIKH Abdul Kadir Abdul Mutalib dalam buku tasauf Penawar Bagi Hati menjelaskan mengenai sepuluh celaan Allah kepada manusia akibat dari kelakuan dan tabiat manusia sendiri ketika menempuh kehidupan seharian. Sepuluh celaan itu berdasarkan sepuluh sikap yang lazim dilakukan manusia iaitu:

1. Gelojoh ketika makan
Dalam erti kata lain, seseorang yang kuat dan tidak bersopan ketika makan. Sikap ini juga meliputi maksud makan terlalu kenyang, menyediakan makanan dalam jumlah yang berlebihan, yang akhirnya membawa kepada pembaziran.

2. Banyak bercakap
Allah mencela manusia yang suka bercakap perkara yang sia-sia, fitnah memfitnah, umpat keji dan kata mengata kerana semua jenis percakapan itu menjurus kepada permusuhan dan perbalahan sesama manusia.

3. Suka marah-marah
Kemarahan boleh membuat seseorang itu bertindak di luar batas kemanusiaan. Perbuatan marah akan diikuti dengan maki hamun, mengherdik dan perkelahian yang boleh mengakibatkan kecederaan atau pembunuhan.

4. Hasad dengki
Seseorang yang bersifat dengki sanggup melakukan apa saja dalam bentuk kejahatan atau jenayah. Perbuatan menipu dan sanggup memusnah hidup orang lain adalah antara sifat keji yang lahir dari perasaan hasad dengki. Rasulullah bersabda: ‘Dengki itu memakan segala kebaikan’ (riwayat Muslim).

5. Kedekut & bakhil
Rezeki yang Allah kurniakan lebih suka disimpan hingga bertimbun banyaknya. Sifat kedekut menghijab (menutup) seseorang dari membelanjakan sebahagian dari hartanya ke jalan kebaikan termasuk menderma, membuat kebajikan kejalan Allah dan membantu orang yang memerlukan.

6. Bermegah-megah
Ia termasuk sikap suka status atau jawatan, gelaran dan menerima sanjungan.

7. Cintakan dunia
Terlalu menghambakan diri kepada perkara duniawi hingga melupakan tuntutan ukhrawi. Rasulullah bersabda: “Bekerjalah kamu di dunia seolah-olah kamu akan hidup seribu tahun, dan beramallah kamu untuk akhirat seolah-olah kamu akan mati esok hari.” (riwayat Bukhari dan Muslim).

8. Ego atau sombong
Sifat membuat seseorang merasakan dirinya mempunyai kelebihan dalam banyak perkara dari orang lain hingga mereka lupa bahawa hanya Allah saja yang bersifat maha besar.

9. Ujub dan suka bangga diri
Perbuatan ini ada unsur megah dan sombong dengan kelebihan dan kepandaian yang dikurniakan Allah. Rasa bersyukur tidak ada lagi dalam diri kerana telah diselaputi perasaan ego.

10. Gemarkan pujian atau riak
Manusia jenis ini suka meminta dipuji dalam setiap perkara yang dilakukan. Sikap baiknya, jasa dan baktinya mahu dikenang sampai bila-bila. Ini jelas membayangkan bahawa sikap baiknya selama ini, tidak diiringi dengan kejujuran dan keikhlasan.

Sepuluh sikap yang dicela Allah ini, jika diamalkan, akan termasukdalam kategori melakukan dosa besar.