Sabtu, 03 Maret 2012

SILATURRAHIM


11_ya_rab.jpg
SILATURRAHIM, KEUTAMAAN &
ANJURAN MELAKSANAKANNYA

Penyusun:
Syaikh Khalid bin Husain bin Abdurrahman

Penerjemah:
Mohammad Iqbal Ghazali

Sumber:
IslamHouse.com





بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ
Segala puji bagi Allah عزّوجلّ Rabb semesta alam, tidak ada permusuhan kecuali kepada orang-orang zalim, dan kesudahan bagi untuk orang-orang yang bertaqwa. Shalawat dan salam semoga selalu tercurah kepada Nabi صلي الله عليه وسلم yang terpercaya. Semoga Allah عزّوجلّ memberikan rahmat kepadanya, keluarga dan sahabatnya, dan kesejahteraan yang banyak, amma ba'du:
Saudaraku seiman: sesungguhnya silaturrahim termasuk ibadah kepada Allah عزّوجلّ yang paling baik dan ketaatan yang paling agung, kedudukan yang tertinggi dan berkah yang besar, serta yang paling umum manfaatnya di dunia dan akhirat. Maka silaturrahim merupakan kebutuhan secara fitrah dan sosial, yang dituntut oleh fitrah yang benar dan dicenderungi oleh tabiat yang selamat. Sesungguhnya sempurnalah dengannya keakraban, tersebar kasih sayang dengan perantaraannya, dan merata rasa cinta. Ia adalah bukti kemuliaan, tanda muru`ah, mengusahakan bagi seseorang kemuliaan, pengaruh, dan wibawa. Karena alasan itulah berlomba-lomba padanya orang-orang mulia yang berakal, maka mereka menyambung (tali silaturrahim) kepada orang yang memutuskan dan memberi kepada orang yang tidak mau memberi, serta bersifat santun kepada yang bodoh. Tidaklah nampak muru`ah kecuali ada padanya tali kekeluargaan yang disambung kembali, kebaikan yang diberikan, kesalahan yang dimaafkan, dan uzur yang diterima.
Sesungguhnya silaturrahim memperkuat kasih sayang dan menambah rasa cinta, serta memperkokoh ikatan kekeluargaan. Nabi صلي الله عليه وسلم bersabda:
إِنَّ صِلَةَ الرَّحِمِ مَحَبَّةٌ فِى اْلأَهْلِ وَمَثرَاةٌ فِى الْمَالِ وَمَنْسَأَةٌ فِى اْلأَثَرِ
"Sesungguhnya silaturrahim adalah rasa cinta di dalam keluarga, menambah harta, dan memperpanjang umur."[1]
Sesungguhnya silaturrahim menambah umur, memakmurkan negeri, menambah keberkahan rizqi, dan memelihara kesudahan yang buruk. Nabi صلي الله عليه وسلم bersabda:
مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِى رِزْقِهِ وَيُنْسَأَ لَهُ فِى أَثَرِهِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ
"Barangsiapa yang ingin dimudahkan rizkinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah ia menyambung tali silaturrahim."[2]
Maka silatahurrahim merupakan kewajiban yang sangat ditekankan, tidak ada yang memutuskannya dan mengingkarinya kecuali orang yang telah rusak fitrahnya, buruk akhlaknya, jelek tabiatnya, dan ia sudah pantas mendapat kutukan dari Allah عزّوجلّ. Firman Allah عزّوجلّ:
فَهَلْ عَسَيْتُمْ إِن تَوَلَّيْتُمْ أَن تُفْسِدُوا فِي اْلأَرْضِ وَتُقَطِّعُوا أَرْحَامَكُمْ . أُوْلَئِكَ الَّذِينَ لَعَنَهُمُ اللهُ فَأَصَمَّهُمْ وَأَعْمَى أَبْصَارَهُمْ
Maka apakah kiranya jika kamu berkuasa kamu akan membuat kerusakan dimuka bumi dan memutuskan hubungan kekeluargaan.  Mereka itulah orang-orang yang dila'nati Allah dan ditulikan-Nya telinga mereka dan dibutakan-Nya penglihatan mereka. (QS. Muhammad: 22-23)

Karena itulah, Allah عزّوجلّ memerintahkan dalam kitab-Nya yang mulia untuk menyambung tali silaturrahim di beberapa ayat: Allah عزّوجلّ berfirman:
وَاعْبُدُوا اللهَ وَلاَتُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا
Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapak, …. (QS. An-Nisaa’: 36)
Dan firman Allah عزّوجلّ:
وَاتَّقُوا اللهَ الَّذِي تَسَآءَلُونَ بِهِ وَاْلأَرْحَامَ إِنَّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا
Dan bertaqwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu. (QS. 4:1)
Maksudnya adalah –wallahu 'alam- bertaqwalah kepada Allah عزّوجلّ dengan melaksakan taat kepada-Nya dan meninggalkan perbuatan durhaka kepada-Nya, dan takutilah hubungan silaturrahim bahwa kamu memutuskannya, akan tetapi sambunglah dan berbuat baiklah kepadanya.
Maka Allah عزّوجلّ menyuruh menyambung hubungan silaturrahim setelah mem-erintahkan bertaqwa kepada-Nya. Maka Allah عزّوجلّ mengingatkan para da'i-Nya yang berada di di antara manusia, agar menyambung tali silaturrahim, karena mereka berasal dari satu jiwa, dan untuk menunjukkan bahwa silaturrahim karena mengharapkan ridha Allah عزّوجلّ merupakan salah satu pengaruh taqwa kepada Allah عزّوجلّ yang penuh berkah, menjadi tanda meresapnya taqwa di dalam hati, merupakan petunjuk kebenaran iman. Maka manusia yang paling menyambung silaturrahim merupakan manusia yang paling sempurna iman dan paling bertaqwa kepada Rabb-Nya. Kerena inilah, Nabi صلي الله عليه وسلم merupakan orang yang paling menyambung hubungan silaturrahim dan yang paling bertaqwa kepada Allah عزّوجلّ. Karena itulah, Khadijah رضي الله عنها menyebutkan hal itu saat turunnya wahyu pertama kali, ketika beliau صلي الله عليه وسلم berkata kepada Khadijah رضي الله عنها dan bercerita kepadanya:
إِنِّي خَشِيْتُ عَلَى نَفْسِي
'Sesungguhnya aku merasa khawatir terhadap diriku.'
Maka ia berkata, 'Sekali-kali tidak, sesungguhnya Allah عزّوجلّ tidak akan pernah menghinakan engkau, sesungguhnya engkau benar-benar menyambung hubungan silaturrahim…'[3]
Di antara besarnya perkara silaturrahim, sesungguhnya Allah عزّوجلّ mengambil baginya satu nama dari nama-Nya yang Maha Agung, maka dari Abdurrahman bin 'Auf رضي الله عنه, ia berkata, 'Aku mendengar Rasulullah صلي الله عليه وسلم bersabda:
قَالَ اللهُ تعالى: أَنَا اللهُ وَأَنَا الرَّحْمنُ, خَلَقْتُ الرَّحِمَ وَشَقَقْتُ لَهَا اسْمًا مِنْ اسْمِي فَمَنْ وَصَلَهَا وَصَلْتُهُ وَمَنْ قَطَعَهَا قَطَعْتُهُ
"Allah Ta’ala berfirman, 'Aku adalah Allah, dan Aku Yang Maha Penyayang, Aku menciptakan rahim, dan Aku mengambilkan baginya satu nama dari nama-Ku. Maka barangsiapa yang menyambungnya niscaya Aku menyambung (hubungan dengan)nya dan barangsiapa yang memutuskannya niscaya Aku memutuskan (hubungan dengan)nya."[4]
Karena berdasarkan ayat-ayat tersebut dan yang lainnya, serta hadits-hadits Nabi صلي الله عليه وسلم ini, di samping juga yang akan disebutkan, silaturrahim merupakan perkara besar, kedudukan yang tinggi, sanjungan yang indah, dan sebutan yang baik di dunia, dan kesudahan yang indah di akhirat bagi orang yang  menyambung hubungan silaturrahim dan melaksanakan hak ini dengan sebaik-baiknya.
Saudaraku sesama muslim: Sesungguhnya silaturrahim merupakan amal shalih yang penuh berkah, dan memberikan kepada pelakunya kebaikan di dunia dan akhirat. Menjadikannya diberkahi di manapun ia berada, Allah عزّوجلّ memberikan berkah kepadanya di setiap kondisi dan perbuatannya, baik yang segera maupun yang tertunda. Keutamaannya sangat banyak, profitnya melimpah, buahnya matang, pohon-pohonnya baik yang memberikan makanannya di setiap waktu dengan ijin Rabb-nya. maka diantara keutamaan tersebut adalah sebagai berikut:
1.    Silaturrahim merupakan sebagian dari konsekuensi iman dan tanda-tandanya: dari Abu Hurairah رضي الله عنه ia berkata, 'Rasulullah صلي الله عليه وسلم bersabda:
مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَاْليَوْمِ اْلآخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ, وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَاْليَوْمِ اْلآخِرِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ
"Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaklah ia memuliakan tamunya, dan barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maha hendaklah ia menyambung hubungan silaturrahim, …"[5]
2.    Silaturrahim adalah penyebab bertambah umur dan luas rizqi: dari Abu Hurairah رضي الله عنه, ia berkata, 'Aku mendengar Rasulullah صلي الله عليه وسلم bersabda:
مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِى رِزْقِهِ وَيُنْسَأَ لَهُ فِى أَثَرِهِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ
"Barangsiapa yang senang diluaskan rizqinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah ia menyambung hubungan silaturrahim."[6]
3.    Silaturrahim menyebabkan adanya hubungan Allah عزّوجلّ bagi orang yang menyambungnya: dari Abu Hurairah رضي الله عنه, ia berkata, 'Rasulullah صلي الله عليه وسلم bersabda:
إَنَّ اللهَ خَلَقَ الْخَلْقَ حَتَّى إِذَا فَرَغَ مِنْهُمْ قَامَتِ الرَّحِمُ فَقَالَتْ:هَذَا مَقَامُ الْعَائِذُ بِكَ مِنَ الْقَطِيْعَةِ. قَالَ: َنعَمْ, أَمَا تَرْضَيْنَ أَنْ أَصِلَ مَنْ وَصَلَكَ وَأَقْطَعَ مَنْ قَطَعَكَ؟ قَالَتْ: بَلَى. قَالَ: فَذَلِكَ لَكَ.
"Sesungguhnya Allah menciptakan makhluk, hingga apabila Dia عزّوجلّ selesai dari (menciptakan) mereka, rahim berdiri seraya berkata: ini adalah kedudukan orang yang berlindung dengan-Mu dari memutuskan.' Dia berfirman: 'Benar, apakah engkau ridha bahwa Aku menyambung orang yang menyambung engkau dan memutuskan orang yang memutuskan engkau? Ia menjawab, 'Bahkan.' Dia berfirman, 'Itulah untukmu.'
Dan dalam satu riwayat al-Bukhari:
فَقَالَ اللهُ تعالى: مَنْ وَصَلَكَ وَصَلْتُهُ وَمَنْ قَطَعَكَ قَطَعْتُهُ
"Allah berfirman, 'Barangsiapa yang menyambung engkau niscaya Aku menyambungnya dan barangsiapa yang memutuskan engkau niscaya Aku memutuskannya."[7]
4.    Silaturrahim merupakan salah satu penyebab utama masuk surga dan jauh dari neraka: dari Abu Ayyub al-Anshari رضي الله عنه, sesungguhnya seorang laki-laki berkata, 'Ya Rasulullah, ceritakanlah kepadaku amalan yang memasukkan aku ke dalam surga dan menjauhkan aku dari neraka.' Maka Nabi صلي الله عليه وسلم bersabda:
تَعْبُدُ اللهَ وَلاَ تُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا وَتُقِيْمُ الصَّلاَةَ وَتُؤْتِيَ الزَّكَاةَ وَتَصِلُ الرَّحِمَ.
"Engkau menyembah Allah dan tidak menyekutukan sesuatu dengan-Nya, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan menyambung tali silaturrahim."[8]
Dan dalam satu riwayat:
إِنْ تَمَسَّكَ بِمَا أَمَرْتُهُ بِهِ دَخَلَ الْجَّنَّةَ
"Jika dia berpegang dengan apa yang Kuperintahkan kepadanya niscaya ia masuk surga."
5.    Silaturrahim merupakan ketaatan kepada Allah عزّوجلّ dan ibadah besar, serta petunjuk takutnya hamba kepada Rabb-Nya. Maka ia menyambung tali silaturrahim tatkala Allah عزّوجلّ menyuruh untuk disambung. Dan Allah عزّوجلّ berfirman:
وَالَّذِينَ يَصِلُونَ مَآأَمَرَ اللهُ بِهِ أَن يُوصَلَ وَيَخشَوْنَ رَبَّهُمْ وَيَخَافُونَ سُوءَ الْحِسَابِ
dan orang-orang yang menghubungkan apa-apa yang Allah perintahkan supaya dihubungkan, dan mereka takut kepada Rabbnya dan takut kepada hisab yang buruk. (QS. Ar-Ra'd :21)
6.    Sesungguhnya silaturrahim lebih besar dari pada memerdekakan budak. Dari Ummul mukminin Maimunah binti al-Harits رضي الله عنها, sesungguhnya dia memerdekakan budak yang dimilikinya dan dia tidak meminta izin kepada Nabi صلي الله عليه وسلم. Maka tatkala pada hari yang menjadi gilirannya, ia berkata, 'Apakah engkau merasa wahai Rasulullah bahwa sesungguhnya aku telah memerdekakan budak (perempuan) milikku? Beliau bertanya, 'Apakah sudah engkau lakukan? Dia menjawab, 'Ya.' Beliau bersabda:
أَمّا إِنَّكِ لَوْ أَعْطَبْتِهَا أَخْوَالَكِ كَانَ أَعْظَمَ لِأَجْرِكِ.
"Adapun jika engkau memberikannya kepada paman-pamanmu niscaya lebih besar pahalanya untukmu."[9]
7.    Di antara besarnya silaturrahim, sesungguhnya sedekah terhadap keluarga sendiri tidak seperti sedekah terhadap orang lain. Dari Salman bin 'Amir رضي الله عنه, dari Nabi صلي الله عليه وسلم, beliau bersabda:
... الصَّدَقَةُ عَلَى الْمِسْكِيْنِ صَدَقَةٌ وَعَلَى ذِي الرَّحِمِ اثْنَتَانِ: صَدَقَةٌ وَصِلَةٌ
"…Sedekah terhadap orang miskin adalah sedekah dan terhadap keluarga sendiri mendapat dua pahala: pahal sedekah dan silaturrahim."[10]
Dan demikian pula dari hadits Zainab ats-Tsaqafiyah رضي الله عنها, istri Abdullah bin Mas'ud رضي الله عنه, ketika ia pergi dan bertanya kepada Nabi صلي الله عليه وسلم, 'Apakah boleh bersedekah darinya kepada suaminya dan anak-anak yatim yang ada dalam asuhannya? Maka Nabi صلي الله عليه وسلم bersabda:
لَهَا أَجْرَانِ: أَجْرُ الْقَرَابَةِ وَأَجْرُ الصَّدَقَةِ
"Untuknya dua pahala, pahala keluarga dan pahala sedekah."[11]
Wahai saudaraku sesama Islam: termasuk hak keluarga dan kerabatmu bahwa engkau mengunjungi yang sakit dari mereka, membantu yang fakir, memperhatikan yang membutuhkan dari mereka, mengasihi yang kecil, membantu anak yatim, menghormati yang besar, dan engkau memberikan kepada mereka dengan kebaikanmu kepada selain mereka, engkau memberikan senyum kepada mereka saat bertemu, lembut berkata-kata kepada mereka, berbuat baik dalam berhubungan dengan mereka, dalam arti saling mengunjungi, saling memberi hadiah dan salam, serta saling mendo'akan.
Wahai saudaraku, perkara ini tidak berhenti hanya sampai di sini, tetapi kamu harus menyambung hubungan dengan mereka, sekalipun mereka bersikap kaku dan memutuskan hubungan. Engkau harus tetap bersikap santun kepada mereka, sekalipun mereka bodoh dan jahil. Dengan demikian, engkau telah melebihi mereka beberapa derajat di sisi Allah عزّوجلّ, karena begitu banyaknya kebaikanmu dan buruknya sikap mereka, serta jahatnya perilaku mereka bersamamu.
Berbuat baiklah kepada manusia niscaya engkau mendapatkan hati mereka
Sering kali manusia menjadi budak karena perbuatan baik.
Imam Muslim dan Imam Ahmad rahimahumallah meriwayatkan dari Abu Hurairah رضي الله عنه, ia berkata, 'Seorang laki-laki datang kepada Nabi صلي الله عليه وسلم seraya berkata, 'Ya Rasulullah, sesungguhnya aku memiliki kerabat yang terus kusambung hubungan dengan mereka dan mereka memutuskan, aku berbuat baik kepada mereka dan mereka berbuat jahat kepadaku, dan mereka bersikap bodoh kepadamu sedangkau aku selalu bersikap santun kepada mereka. Beliau bersabda:
لَئِنْ كُنْتَ كَمَا قُلْتَ, فَكَأَنَّمَا تُسِفُّهُمُ الْمَلَّ, وَلاَيَزَالُ مَعَكَ مِنَ اللهِ ظَهِيْرٌ عَلَيْهِمْ مَادُمْتَ عَلَى ذلِكَ.
"Jika engkau benar-benar seperti yang engkau katakan, maka seolah-olah engkau menaburkan bara panas di wajah mereka. Dan senantiasa kemenangan dari Allah menyertaimu terhadap mereka, selama engkau tetap seperti itu."[12]
Wahai saudara yang mulia: sebagian manusia tidak menyambung hubungan dengan kerabatnya kecuali apabila mereka menyambungnya. Ini pada hakekatnya bukan menyambung tali silaturrahim. Sesungguhnya hal itu hanyalah  membalas  jasa. Karena sesungguhnya muru`ah dan fitrah yang sehat menuntut untuk membalas jasa kepada orang yang berbuat baik kepadamu, sama saja ia termasuk kerabatmu atau bukan. Dari Abdullah bin 'Amr bin al-'Ash رضي الله عنهما, dari Nabi صلي الله عليه وسلم, beliau bersabda:
لَيْسَ الْوَاصِلُ بِالْمُكَافِئِ وَلكِنَّ الْوَاصِلَ الَّذِي إِذَا قُطِعَتْ رَحِمُهُ وَصَلَهَا
"Orang yang menyambung (tali silaturrahim) bukanlah orang yang membalas jasa. Akan tetapi orang yang menyambung (tali silaturrahim) adalah yang apabila diputuskan hubungan (silatarrahim)nya, ia menyambungnya."[13]
Dan dari 'Uqbah bin 'Amir رضي الله عنه, aku berkata, 'Ya Rasulullah, ceritakanlah kepadaku tentang amalan yang utama,' maka beliau صلي الله عليه وسلم bersabda:
صِلْ مَنْ قَطَعَكَ وَأَعْطِ مَنْ حَرَمَكَ وَأَعْرِضْ عَمَّنْ ظَلَمَكَ
Wahai 'Uqbah, sambunglah orang yang memutuskan (hubungan dengan)mu, berilah kepada orang yang tidak memberi kepadamu, dan berpalinglah dari orang yang berbuat zalim kepadamu."[14]
Wahai saudaraku, sesungguhnya termasuk silaturrahim bahwa engkau mengampuni kesalahan orang lain, menutupi kekeliruan.  Dan tiadalah akal sehat, keutamaan, dan kecerdasan kecuali engkau menyambung tali silaturrahim kepada orang yang telah memutuskan, memberi kepada orang yang tidak pernah memberi kepadamu, memaafkan kepada orang yang berbuat zalim kepadamu, dan bersikap santun kepada yang bodoh terhadapmu. Dan bertambahlah kecerdasan, besarlah keutamaan, dan tinggilah jiwa ketika engkau berbaik sangka (husnuz zhan) dengan mereka, dan melihat pada kekeliruan mereka dengan pandangan orang yang mulia lagi toleran.
Hendaklah kita bertaqwa kepada Allah, takut terhadap murka dan siksa-Nya, dan hendaklah kita menyambung silaturrahim kita. Firman Allah عزّوجلّ:
وَأُوْلُوا اْلأَرْحَامِ بَعْضُهُمْ أَوْلَى بِبَعْضٍ فِي كِتَابِ اللهِ
Dan orang-orang yang mempunyai hubungan darah satu sama lain lebih berhak (waris mewarisi) di dalam Kitab Allah (QS. Al-Ahzab:6)
Sesungguhnya memutuskan tali silaturrahim merupakan dosa besar yang Allah عزّوجلّ memberikan ancaman kepada pelakunya dengan berbagai siksaan dan hukuman, baik di dunia maupun di akhirat. Bagaimana tidak, padahal Rasulullah صلي الله عليه وسلم bersabda:
اَلرَّحِمُ مُعَلَّقَةٌ بِالْعَرْشِ تَقُوْلُ: مَنْ وَصَلَنِي وَصَلَهُ اللهُ وَمَنْ قَطَعَنِي قَطَعَهُ اللهُ
"Rahim bergantung di Arys seraya berkata: Barangsiapa yang menyambung hubunganku niscaya Allah menyambung-nya, dan barangsiapa yang memutuskan aku niscaya Allah memutuskan hubungan dengannya."[15]
Maka orang yang memutuskan tali silaturrahim terputus dari Allah. Dan siapa yang Allah عزّوجلّ memutuskan hubungan dengannya, maka kebaikan apakah yang bisa diharapkannya, dan keburukan apakah yang ia bisa aman darinya, baik di dunia maupun di akhirat selama ia masih memutuskan tali silaturrahim? Dari Abu Bakrah رضي الله عنه, dari Nabi صلي الله عليه وسلم, beliau bersabda:
مَا مِنْ ذَنْبٍ أَحْرَى أَنْ يُعَجِّلَ اللهُ لِصَاحِبِهِ الْعُقُوْبَةَ فِى الدُّنْيَا مَعَ مَا يُدَّخَرُ لَهُ فِى اْلآخِرَةِ مِنَ الْبَغْيِ وَقَطِيْعَةِ الرَّحِمِ
"Tidak ada dosa yang Allah lebih mempercepat siksaan kepada pelakunya di dunia, serta yang tersimpan untuknya di akhirat selain perbuatan zalim dan memutuskan tali silaturrahim."[16]
Saudaraku yang mulia: apabila hal itu sudah diketahui, maka ketahuilah, sesungguhnya memutuskan hubungan silaturrahim –semoga Allah عزّوجلّ melindungi kita semua- termasuk sebab terhapusnya hati, butanya mata hati, dan terhalang mendapatkan ilmu yang bermanfaat. Bahkan, terhalang mendapat semua kebaikan. Maka orang yang memutuskan silaturrahim, kehidupannya susah, tidak ada yang menyukai dan menyebutnya. Dan apabila ia disebut orang, maka dengan pembicaraan yang buruk dan sifat yang jelek. Karena memutuskan silaturrahim termasuk kerusakan di muka bumi, Allah عزّوجلّ telah memutuskan kepada pelakunya dengan mendapat kutukan dan hukuman yang segera (di dunia) dan tertunda (di akhirat). Firman Allah عزّوجلّ:
فَهَلْ عَسَيْتُمْ إِن تَوَلَّيْتُمْ أَن تُفْسِدُوا فِي اْلأَرْضِ وَتُقَطِّعُوا أَرْحَامَكُمْ. أُوْلَئِكَ الَّذِينَ لَعَنَهُمُ اللهُ فَأَصَمَّهُمْ وَأَعْمَى أَبْصَارَهُمْ
Maka apakah kiranya jika kamu berkuasa kamu akan membuat kerusakan dimuka bumi dan memutuskan hubungan kekeluargaan. Mereka itulah orang-orang yang dila'nati Allah dan ditulikan-Nya telinga mereka dan dibutakan-Nya penglihatan mereka. (QS. Muhammad: 22-23)
Dan firman Allah عزّوجلّ:
وَالَّذِينَ يَنقُضُونَ عَهْدَ اللهِ مِن بَعْدِ مِيثَاقِهِ وَيَقْطَعُونَ مَآ أَمَرَ اللهُ بِهِ أَن يُوصَلَ وَيُفْسِدُونَ فِي اْلأَرْضِ أُوْلَئِكَ لَهُمُ الْلَّعْنَةُ وَلَهُمْ سُوءُ الدَّارِ
Orang-orang yang merusak janji Allah setelah diikrarkan dengan teguh dan memutuskan apa-apa yang Allah perintahkan supaya dihubungkan dan mengadakan kerusakan di bumi, orang-orang itulah yang memperoleh kutukan dan bagi mereka tempat kediaman yang buruk (jahannam). (QS. Ar-Ra'd:25)
Dan diriwayatkan dari Nabi صلي الله عليه وسلم, sesungguhnya beliau bersabda:
إِذَا ظَهَرَ الْقَوْلُ وَخزن الْعَمَلُ وَائْتَلَفَتِ اْلأَلْسُنُ وَتَبَاغَضَتِ الْقُلُوْبُ وَقَطَعَ كُلُّ ذِي رَحِمٍ رَحِمَهُ فَعِنْدَ ذلِكَ لَعَنَهُمُ اللهُ فَأَصَمَّهُمْ وَأَعْمَى أَبْصَارَهُمْ
"Apabila nampak ucapan dan tersimpan amal ibadah, kesepakatan nampak di lidah dan hati saling membenci, serta setiap orang yang mempunyai keluarga memutuskannya. Maka ketika itulah Allah mengutuk mereka, menulikan mereka, dan membutakan mata hati mereka."[17]
Dan diriwayatkan bahwa orang yang memutuskan tali silaturrahim, amalnya tidak diterima. Dari Abu Hurairah رضي الله عنه, ia berkata, 'Aku mendengar Rasulullah صلي الله عليه وسلم bersabda:
إِنَّ أَعْمَالَ بَنِي آدَمَ تُعْرَضُ كُلَّ خَمِيْسٍ لَيْلَةَ الْجُمُعَةِ فَلاَ يُقْبَلُ عَمَلُ قَاطِعِ رَحِمٍ
"Sesungguhnya amal ibadah manusia diperlihatkan setiap hari Kamis malam Jum'at, maka tidak diterima amal ibadah orang yang memutuskan hubungan silaturrahim."[18]
Tahukah engkau, wahai saudaraku yang mulia, kerugian orang yang memutuskan tali silaturrahimnya, maka janganlah engkau termasuk dari mereka. Dan orang yang memutuskan silaturrahim juga membawa dirinya untuk tidak dikabulkan doanya. Diriwayatkan bahwa Ibnu Mas'ud رضي الله عنه pada suatu hari duduk setelah Subuh di satu halqah, maka berkata: 'Aku meminta kepada orang yang memutuskan silaturrahim agar berdiri meninggalkan kami. Sesungguhnya kami ingin berdoa kepada Rabb kami dan sesungguhnya pintu langit tertutup karena orang yang memutuskan silaturrahim.'
Maka janganlah engkau membawa dirimu, wahai si miskin, bahwa doamu ditolak bila kamu berdoa kepada Allah عزّوجلّ. Dan orang yang memutuskan tali silaturrahim membuat sial masyarakat yang dia tinggal padanya. Dari Abdullah bin Abi Aufa رضي الله عنه, ia berkata, 'Aku mendengar Rasulullah صلي الله عليه وسلم bersabda:
لاَ تَنْزِلُ الرَّحْمَةُ عَلَى قَوْمٍ فِيْهِمْ قَاطِعُ رَحِمٍ
"Rahmat tidak turun kepada kaum yang pada mereka ada yang memutuskan silaturrahim."[19]
Dan orang yang memutuskan tali silaturrahim terancam tidak bisa masuk surga. Dari Abu Muhammad Jubair bin Muth'im رضي الله عنه, dari Nabi صلي الله عليه وسلم, beliau bersabda:
لاَ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ قَاطِعٌ
"Tidak bisa masuk surga orang yang memutuskan (silaturrahim)."[20]
Wallahu 'alam.


[1]   HR. Ahmad dan at-Tirmidzi, dan ia berkata: hadits gharib dari jalur ini, dan diriwayatkan oleh al-Hakim, dan ia menshahihkannya, dan disetujui oleh adz-Dzahabi
[2]   Muttafaqun 'alaih, dari hadits Anas bin Malik رضي الله عنه. Al-Bukhari 10/348, Muslim 2557, dan Abu Daud 1693
[3]   Muttafaqun 'alaih, dari hadits 'Aisyah رضي الله عنها
[4]   HR. at-Tirmidzi no. 1907, Abu Daud 1694, dan Ahmad 1662 dan 1683
[5]   Muttafaqun 'alaih, al-Bukhari 10/336 dan Muslim no. 85
[6]   Muttafaqun 'alaih, dari hadits Anas bin Malik رضي الله عنه. Al-Bukhari 10/348, Muslim 2557, dan Abu Daud 1693
[7]   Muttafaqun 'alaih, Bukhari 10/349 dan 13/392, Muslim no. 2554
[8]   Muttafaqun 'alaih, al-Bukhari 3/208, dan Muslim no. 13
[9]   Muttafaqun 'alaih, al-Bukhari 5/161, Muslim no. 999, dan Abu Daud no. 1690
[10] HR. at-Tirmidzi 658 dan ia berkata: Hadits hasan, Abu Daud 2355, an-Nasa`i 5/92, Ibnu Majah 1844, dan dishahihkan oleh Ibnu Hibban no. 892
[11] Muttafaqun 'alaih, al-Bukhari 3/259 dan Muslim no. 1000
[12] HR. Muslim no. 2558
[13] HR. al-Bukhari 10/355, Abu Daud no. 1697, dan at-Tirmidzi no. 1909
[14] HR. Ahmad dalam al-Musnad
[15] Muttafaqun 'alaih, al-Bukhari 10/350 dan Muslim no. 2555
[16] HR. at-Tirmidzi 2511, Abu Daud 4902, Ibnu Majah 4211, dan at-Tirmidzi berkata: hadits hasan shahih, dan dishahihkan oleh Syaikh al-Albani dalam Shahih Sunan Abu Daud
[17] HR. ath-Thabrani dalam al-Mu'jam al-Kabir. Lihat Kanzul Umal dan  Majma' az-Zawa`id karya al-Haistami
[18] HR. Ahmad dalam al-Musnad. Lihat Majma' az-Zawa`id
[19] Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Laits as-Samarqandi no. 158 dan dijelaskan oleh muhaqqiq bahwa Syaikh al-Albani mengatakan bahwa hadits ini dha'if dalam Dha'if al-Jami' no 1463. Namun pengarang mengatakan bahwa hadits ini diriwayatkan oleh Muslim dan tidak menjelaskan nomor hadits. Wallahu A'lam. Pent
[20] Muttafaqun 'alaih, al-Bukhari 10/347 dan Muslim no. 2556

Sabtu, 25 Februari 2012

Apa Benar Bahaya Minum Sambil Berdiri

Mengapa kita tidak diperbolehkan minum sambil berdiri? pengaruh terbesar apa yang terjadi pada organ vital kita terutama ginjal? lalu bolehkah dalam Islam melakukan makan dan minum sambil berdiri? berikut bisa anda simak artikel selengkapnya.
Dalam sebuah kajian kesehatan akupuntur yang diadakan salah satu ahli akupuntur, membuktikan bahwa air minum yang masuk dengan cara minum sambil duduk lebih baik dibandingkan kita minum dengan cara berdiri.
Air putih yang kita minum saat duduk akan disaring oleh sfringer. Sfringer adalah suatu struktur maskuler (berotot) yang bisa membuka (sehingga air kemih bisa lewat) dan menutup. Setiap air yang kita minum akan disalurkan pada pos-pos penyaringan yang berada di ginjal.
Sebaliknya, jika kita minum air putih dengan cara berdiri, maka air yang kita minum itu masuk tanpa disaring lagi. Air itu bisa langsung menuju kandung kemih. Ketika langsung menuju kandung kemih, maka terjadi pengendapan di saluran ureter.
Karena banyak limbah-limbah yang menyisa di ureter maka hal ini bisa menyebabkan penyakit kristal ginjal. Salah satu penyakit ginjal yang berbahaya. Susah kencing itu penyebabnya.
Apabila minum sambil berdiri ini tidak kita hindari akan maka beriap-siaplah menerima efek buruk lain pada organ ginjal anda, kita tahu salah satu fungsinya yakni menyaring racun ke dalam tubuh.
Lantas bagaimana cara mengatasinya agar kita terhindar dari hal tersebut?
Anda harus melakukan kebiasaan berikut :
- Biasakanlah selalu minum sambil duduk, ingat jangan sambil berdiri.
- Biasakan dan perbanyak minum air putih sesuai kebutuhan yang dianjurkan.
Guna memenuhi kebutuhan air dalam tubuh sehari kita memerlukan asupan minum air :
1-3 gelas saat bangun tidur pada pagi hari
2-3 gelas, 1 jam sebelum makan siang
2-3 gelas, 1 jam sebelum makan malam.
Nah dengan demikian kebutuhan air dalam proses metabolisme tubuh akan terpenuhi.
Mengapa Islam melarang makan dan minum sambil berdiri?
Bukti larangan Islam terhadap makan dan minum sambil berdiri ini di pertegas dalam hadist sebagai berikut :
Dari Anas dan Qatadah, Rasulullah saw bersabda,
Sesungguhnya beliau melarang seseorang minum sambil berdiri, Qotadah berkata:”Bagaimana dengan makan?” beliau menjawab: “Itu lebih buruk lagi”.
(HR.Muslim dan Turmidzi)
Bersabda Nabi dari Abu Hurairah,“Jangan kalian minum sambil berdiri ! Apabila kalian lupa, maka hendaknya ia muntahkan !” (HR. Muslim)
Dalam agama Islam berprilaku apapun semua sudah di contohkan oleh Rasulullah termasuk adab dalam makan dan minum, jika makan dan minum sambil berdiri ini dilarang, maka jelas akan sangat tidak baik pengaruhnya terhadap jiwa kita karena erat hubungannya dengan masalah kesehatan, mengapa demikian? sebab makan dan minum sambil berdiri, makan menggunakan tangan kiri merupakan prilaku dan kebiasaan para setan, prilaku setan cenderung buruk, kita dilarang untuk menirunya sebab setan merupakan makluk yang paling sombong yang selalu berusaha menjerumuskan manusia ke dalam kesesatan.
Nah berperilaku tidak baik seperti makan minum menggunakan tangan kiri yang di lakukan sambil berdiri akan berdampak buruk pada kesehatan begitu juga Meniup Makanan Disaat Masih Panas.
Dari fakta diatas terbukti minum sambil berdiri sangat tidak baik terhadap kesehatan ginjal bahkan apabila perilaku ini diabaikan bukan tidak mungkin akan berakibat fatal terhadap organ tubuh tersebut.
Jadi jika keduanya dihubungkan antara aturan dan larangan yang bersumber dari ajaran Islam dengan hasil ilmial para peneliti medis ternyata sangatlah jelas relevansinya.
Yang pasti perilaku buruk yang berakar dari kebodohan dan kebiasaan yang kita anggap benar ternyata akan membawa dampak yang sangat serius bagi keberlangsungan kesehatan kita sendiri.
Bagaimana dengan anda masih juga sering melakukan hal yang demikian? atau mungkin baru mengetahuinya hari ini?

Jumat, 17 Februari 2012

BERCANDA MENURUT ISLAM

1. Meluruskan tujuan yaitu bercanda untuk menghilangkan kepenatan, rasa bosan dan lesu, serta menyegarkan suasana dengan canda yang dibolehkan. Sehingga kita bisa memperoleh semangat baru dalam melakukan hal-hal yang bermanfaat.

2. Tidak melewati batas. Sebagian orang sering berlebihan dalam bercanda hingga melanggar norma-norma. Terlalu banyak bercanda akan menjatuhkan wibawa seseorang.

3. Janganlah bercanda jangan mengandung asma Allah, ayat-ayat-Nya, sunnah rasul-Nya apalagi dengan maksud melecehkan Syariat Islam. Allah berfirman tentang orang-orang yang memperolok-olok sahabat Nabi dan ahli baca al-Qur'an yang artinya: "dan jangan kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan), tentulah mereka menjawab,"sesungguh nya kami hanyalah bersenda gurau dan bermain-main saja." katakanlah," apakah dengan Allah, ayat0ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?" tidak usah kamu minta maaf, karena kamu kafir sesudah beriman." (At- taubah 65-66)

4. Janganlah mengandung dusta maupun mengada-ada. Rasulullah SAW bersabda: "Celakalah bagi orang yang berbicara lalu berdusta supaya dangannya orang banyak jadi tertawa. Celakalah baginya dan celakalah." (HR.Ahmad dan dinilai hasan oleh Al-albani)

5. Tidak bercanda dengan orang yang tidak suka bercanda. Terkadang ada orang yang bercanda dengan seseorang yang tidak suka bercanda, atau tidak suka dengan canda orang tersebut. Hal itu akan menimbulkan akibat buruk. Oleh karena itu, lihatlah dengan siapa kita hendak bercanda.

6. Tidak bercanda dalam perkara-perkara yang serius. Seperti dalam majelis penguasa, majelis ilmu, majelis hakim (pengadilan-ed), ketika memberikan persaksian dan lain sebagainya.

7. Hindari bercanda yang dilarang Allah Azza Wa Jalla seperti menakut-nakuti orang lain, berdusta saat bercanda, melecehkan orang lain, dan memfitnah dengan bercanda.

8. Hindari bercanda dengan aksi atau kata-kata yang buruk. Allah telah berfirman, yang artinya, “Dan katakanlah kepada hamba-hamba-Ku, hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik (benar). Sesungguhnya setan itu menimbulkan perselisihan di antara mereka. Sesungguhnya setan adalah musuh yang nyata bagi kalian.” (QS. Al-Isra’: 53)

9. Tidak banyak tertawa. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengingatkan agar tidak banyak tertawa, “Janganlah kalian banyak tertawa. Sesungguhnya banyak tertawa dapat mematikan hati.” (HR. Ibnu Majah)

Ruqyah: Pengobatan Dengan al-Qur’an dan As-Sunnah

Alhamdulillah, selanjutnya sholawat dan salam semoga senantiasa dilimpahkan kepada Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم, keluarga, dan sahabatnya. Amma Ba’du:
Syaikh Sa’id bin Ali bin Wahf al-Qahthani berkata:
“Tidak diragukan lagi bahwa penyembuhan dengan al-Qur’an dan dengan apa yang ditegaskan dari Nabi صلي الله عليه وسلم berupa ruqyah, merupakan penyembuhan yang bermanfaat sekaligus penawar yang sempurna.
Allah عزّوجلّ berfirman:
قُلْ هُوَ لِلَّذِينَ آمَنُوا هُدًى وَشِفَآءٌ
“Katakanlah, ‘al-Qur’an itu adalah petunjuk dan penawar bagi orang-orang yang beriman.”‘ (QS. Fushshilat: 44).
وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْآنِ مَا هُوَ شِفَاء وَرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِينَ
“Dan Kami turunkan dari al-Qur’an suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (QS. Al-Israa’: 82).
Pengertian “dari al-Qur’an”, pada ayat di atas, maksudnya adalah al-Qur’an itu sendiri. Karena al-Qur’an secara keseluruhan adalah penyembuh, sebagaimana yang disebutkan dalam ayat di atas.
Allah عزّوجلّ berfirman:
يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءتْكُم مَّوْعِظَةٌ مِّن رَّبِّكُمْ وَشِفَاء لِّمَا فِي الصُّدُورِ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِينَ
“Hai sekalian manusia, sesungguhnya telah datang kepada kalian pelajaran dari Rabb kalian, dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada, dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman. ” (QS. Yunus: 57).
Dengan demikian, al-Qur’an merupakan penyembuh yang sempurna di antara seluruh obat hati dan juga obat fisik, sekaligus sebagai obat bagi seluruh penyakit dunia dan akhirat.”

Amalan Sunnah

Mulailah dari niatkan shalat itu kerena bersyukur kepada ALLAH dan bukan karena hal-hal lain, sering kali dalam shalat kita meminta hal-hal seperti, jodoh , rizqi, pangkat dll. Memfokuskan beribadah kepada ALLAH hanya karena bersyukur maka faedahnya akan terasa bagi keluarga, dunia dan akherat dengan pula memperbaiki yang wajib dan menghidupkan yang sunah.

Ibarat berdagang, sesuatu yang WAJIB adalah modal utama dan sesuatu yang SUNNAH adalah keuntungan yang ALLAH berikan kepada siapa saja yang mengerjakannya.

Dalam tanya jawab kepada habbib di season lain ada salah seorang jama’ah yang bertanya kepada habib,

Jama’ah : “Bagaimana agar saya bisa bangun sepertiga malam untuk beribadah dan bersyukur kepada ALLAH, sedangkan sulit sekali bangun malam?”

ulama : “Lakukan amalan-amalan yang diajarkan Rasullulah SAW seperti, wudhu sebelum tidur ,berdzikir sebelum tidur, membaca ayat kursi, Al-Ikhlas, Al-Falaq, An-Naas dan tutup dengan surat al-kafirun insya allah bangun dalam keadaan dan waktu yang dicintai oleh ALLAH, dan ketahuilah waktu kapanpun kita bangun itu termasuk waktu yang dicintai oleh ALLAH’

Kemudian ada jama’ah lain yang mengajukan pertanyaan kepada ulama,

Jama’ah : “Apa keuntungan lain kita shalat malam”

ulama : “Selain bertaubat, bersyukur, dalam khasiat lain shalat malam membentuk akhlak kita menjadikan kita sehat badan,sehat hati,jasmani dan kerohanian.”

Shalat dengan mensyukuri nikmat jauh lebih baik dan segala sesuatu yang kita niatkan dengan kekhusukan maka dikerjakannya dengan enteng dan mudah. ALLAH SWT menjaga seseorang yang juga menjaga kekhusyuan ibadah wajib maupun sunah yang dikerjakannya. Amalan –amalan sunah misalkan shalat Tahajud, Dhuha, Qobliah serta Ba’diah ditambah dengan amalan- amalan sunah seperti puasa senin-kamis dan dikerjakan karena rasa syukur kita atas nik’mat yang ALLAH beri tanpa kita minta sesuatu atau sebelum dimintapun ALLAH akan berikan.

Rasulullah pernah bersabda “Siapa yang menjaga 10 rakaat shalat Qobliah dan Ba’diah maka orang tersebut dijamin masuk surga”

Riwayat lain juga mengatakan “Siapa saja yang menjaga 4 rakaat sebelum dhuhur dan 4 rakaat setelah dhuhur maka haram api neraka menyentuhnya”

Yang paling tidak bisa ketinggalan juga disaat kita beribadah kita harus tahu ilmu jika kita beribadah tanpa ilmu maka amalan- amalan yang kita kerjakan adalah sia-sia.
sumber: http://on.fb.me/ylA5Ey dan http://bit.ly/ydbErA

Rabu, 15 Februari 2012

HUKUM MENDATANGI DUKUN DAN TUKANG RAMAL

Rasulullah 'Rasulullah صلي الله عليه وسلم  telah melarang umatnya mendatangi para peramal, dukun dan tukang tenung. Melarang bertanya serta membenarkan apa yang mereka katakan. Karena hal itu mengandung kemungkaran dan bahaya besar, juga berakibat negatif yang sangat besar pula. Sebab mereka itu adalah orang-orang yang melakukan dusta dan dosa.
Hadits-hadits Rasulullah صلي الله عليه وسلم tersebut di atas membuktikan tentang kekufuran para dukun dan peramal. Karena mereka mengaku mengetahui hal-hal yang ghaib, dan mereka tidak akan sampai pada maksud yang diinginkan melainkan dengan cara berbakti, tunduk, taat, dan menyembah jin-jin. Padahal ini merupakan perbuatan kufur dan syirik kepada Allah سبحانه و تعالى Orang yang membenarkan mereka atas pengakuannya mengetahui hal-hal yang ghaib dan mereka meyakininya, maka hukumnya sama seperti mereka. Dan setiap orang yang menerima perkara ini dari orang yang melakukannya, sesungguhnya Rasulullah 'Rasulullah صلي الله عليه وسلم  berlepas diri dari mereka.
Seorang muslim tidak boleh tunduk dan percaya terhadap dugaan dan sangkaan bahwa cara seperti yang dilakukan itu sebagai suatu cara pengobatan, semisal tulisan-tulisan azimat yang mereka buat, atau menuangkan cairan timah, dan lain-lain cerita bohong yang mereka lakukan.
Semua ini adalah praktek-praktek perdukunan dan penipuan terhadap manusia, maka barangsiapa yang rela menerima praktek-praktek tersebut tanpa menunjukkan sikap penolakannya, sesungguhnya ia telah menolong dalam perbuatan bathil dan kufur.
Oleh karena itu tidak dibenarkan seorang muslim pergi kepada para dukun, tukang tenung, tukang sihir dan semisalnya, lalu menanyakan kepada mereka hal-hal yang berhubungan dengan jodoh, pernikahan anak atau saudaranya, atau yang menyangkut hubungan suami istri dan keluarga, tentang cinta, kesetiaan, perselisihan atau perpecahan yang terjadi dan lain sebagainya. Sebab semua itu berhubungan dengan hal-hal ghaib yang tidak diketahui hakikatnya oleh siapa pun kecuali oleh Allah سبحانه و تعالى .
Sihir sebagai salah satu perbuatan kufur yang diharamkan oleh Allah, dijelaskan di dalam surat Al-Baqarah ayat 102 tentang kisah dua Malaikat:
وَاتَّبَعُواْ مَا تَتْلُواْ الشَّيَاطِينُ عَلَى مُلْكِ سُلَيْمَانَ وَمَا كَفَرَ سُلَيْمَانُ وَلَـكِنَّ الشَّيْاطِينَ كَفَرُواْ يُعَلِّمُونَ النَّاسَ السِّحْرَ وَمَا أُنزِلَ عَلَى الْمَلَكَيْنِ بِبَابِلَ هَارُوتَ وَمَارُوتَ وَمَا يُعَلِّمَانِ مِنْ أَحَدٍ حَتَّى يَقُولاَ إِنَّمَا نَحْنُ فِتْنَةٌ فَلاَ تَكْفُرْ فَيَتَعَلَّمُونَ مِنْهُمَا مَا يُفَرِّقُونَ بِهِ بَيْنَ الْمَرْءِ وَزَوْجِهِ وَمَا هُم بِضَآرِّينَ بِهِ مِنْ أَحَدٍ إِلاَّ بِإِذْنِ اللّهِ وَيَتَعَلَّمُونَ مَا يَضُرُّهُمْ وَلاَ يَنفَعُهُمْ وَلَقَدْ عَلِمُواْ لَمَنِ اشْتَرَاهُ مَا لَهُ فِي الآخِرَةِ مِنْ خَلاَقٍ وَلَبِئْسَ مَا شَرَوْاْ بِهِ أَنفُسَهُمْ لَوْ كَانُواْ يَعْلَمُونَ
“Dan mereka mengikuti apa yang dibaca oleh syetan-syetan pada masa kerajaan Sulaiman (dan mereka mengatakan bahwa Sulaiman itu mengerjakan sihir), padahal Sulaiman tidak kafir (tidak mengerjakan sihir). Mereka mengajarkan sihir  kepada manusia dan apa yang diturunkan kepada dua orang malaikat di negeri Babil yaitu Harut dan Marut, sedang keduanya tidak mengajarkan (sesuatu) kepada seorang pun sebelum mengatakan:"Sesungguhnya kami hanya cobaan (bagimu), sebab itu janganlah kamu kafir'. Maka mereka mempelajari dari kedua malaikat itu apa yang dengan sihir itu mereka dapat menceraikan antara seorang (suami) dengan istrinya. Dan mereka itu (ahli sihir) tidak memberi mudharat dengan sihirnya kepada seorang pun kecuali dengan izin Allah. Dan mereka mempelajari sesuatu yang memberi mudharat kepadanya dan tidak memberi manfaat. Demi, sesungguhnya mereka telah meyakini bahwa barangsiapa yang menukarkan ayat (kitab Allah) dengan sihir itu, tiadalah baginya keuntungan di Akhirat, dan amat jahatlah perbuatan mereka menjual dirinya dengan sihir, kalau mereka mengetahui." (QS. Al-Baqarah: 102).
Ayat yang mulia ini juga menunjukkan bahwa orang-orang yang mempelajari ilmu sihir, sesungguhnya mereka mempelajari hal-hal yang hanya mendatangkan mudharat bagi diri mereka sendiri, dan tidak pula mendatangkan sesuatu kebaikan di sisi Allah سبحانه و تعالى. Ini merupakan ancaman berat yang menunjukkan betapa besar kerugian yang diderita oleh mereka di dunia ini dan di Akhirat nanti. Mereka sesungguhnya telah memperjualbelikan diri mereka dengan harga yang sangat murah, itulah sebabnya Allah berfirman:
وَلَبِئْسَ مَا شَرَوْاْ بِهِ أَنفُسَهُمْ لَوْ كَانُواْ يَعْلَمُونَ
"Dan amat jahatlah perbuatan mereka menjual dirinya dengan sihir itu, seandainya mereka mengetahui." (QS. Al-Baqarah: 102).
Kita memohon kepada Allah kesejahteraan dan keselamatan dari kejahatan sihir dan semua jenis praktek perdukunan serta tukang sihir dan tukang ramal. Kita memohon pula kepadaNya agar kaum muslimin terpelihara dari kejahatan mereka. Semoga Allah سبحانه و تعالى memberikan pertolongan kepada kaum muslimin agar senantiasa berhati-hati terhadap mereka, dan melaksanakan hukum Allah dengan segala sangsi-sangsinya kepada mereka, sehingga manusia menjadi aman dari kejahatan dan segala praktek keji yang mereka lakukan.
Sungguh Allah Maha Pemurah lagi Maha Mulia!.